Postingan

Amalia

Hari ini Maret Sang purnama berlalu tanpa izin Meninggalkan diriku Yang masih mengais remah kehidupan Berharap ada mutiara Bahkan berlian untuk sebuah mahkota Hari ini Kamis Milikku yang masih sederhana Sama seperti sedia kala Bersafari di hamparan pasir Nabi Musa Selalu berharap untuk bisa memeluk senja Setengah perjalanan Aku teringat akan sebuah cerita Seorang gadis di seberang benua Bak memutar sebuah film lama Ternyata Ia adalah pemilik Kamis dan Maret ini Apa kabar dirimu yang telah dewasa Kita yang dulu pernah merangkai kata Mencipta untaian aksara Untuk sebuah kisah kita Mungkin saat ini rangkaian itu terhenti sejenak Namun aku berharap suatu saat nanti Kita kembali memiliki hari Bersama mahkota yang kita miliki Untukmu yang semakin bersahaja Semoga cinta Sang Pemilik Cinta Kasih sayang paling sempurna Senantiasa membersamaimu Aku bukan teman yang sempurna Bisaku hanya mencipta istimewa yang sederhana Hari ini Kamis Selamat hari puisi sedunia Se...

Dia Butuh Kamu, Kawan

Di pinggiran sebuah kota tua yang menyimpan segudang sejarah, sebuah apartemen amat sederhana berdiri tegak ibarat sebuah benteng kerajaan. Berderet bersama apartemen-apartemen lain di sekelilingnya. Ia telah bertahun-tahun lamanya berdiri, melewati banyaknya putaran musim, menyaksikan drama kehidupan manusia yang tak ada habisnya. Tepat di lantai teratas apartemen itu, tinggallah seorang gadis muda yang sedang menyelesaikan program studi perkuliahannya. Ia tinggal bersama tiga orang temannya. Mereka berempat mendalami jurusan yang berbeda-beda. Gadis itu lebih memilih untuk menyelam di lautan ilmu sejarah Islam kuno. Ia sangat tertarik dengan segala hal yang berbau sejarah. Menduduki tingkat akhir perkuliahan membuatnya merasa na no-nano. Tepat di akhir masa perkuliahannya, secara kebetulan ia terpilih menjadi ketua salah satu divisi dari organisasi di kampusnya. Ia menganggap hal ini sebuah kebetulan. Karena ia tak pernah terlalu terjun di dunia keorganisasian. Mungkin sekali dua k...

Keistimewaan yang sederhana

Tak perlu banyak Istimewaku sederhana Pagi ini Dingin melewati jendela kamar Menyapaku Menyentuh bulu roma di atas punggung tangan Aku pun mulai menari Mengayun lembut Diiringi nyanyian dari sentuhan sendok dan cangkir yang menyatu Bukan pagi ini istimewa Tapi secangkir rasa yang kunikmati sejak sedia kala Sudah lama Bahkan tak semua beranggapan sama Dan berkata terlalu sederhana Tak apa Bagiku kau tetap istimewa Jadilah istimewaku yang sederhana Biarkan hanya aku dan segelintir orang di luar sana Menjadi sahabat baikmu Selalu Secangkir teh hangat~

Bidadari

Oleh: Mufida Afiya Aku terpesona Pada sebuah hati ibarat baja, namun lembut membagi rasa Aku terkagum Pada ayunan langkah yang tegap Seakan tak pernah membisik kata lelah Paling menawan diantara manusia Berpacu dengan tarian angin yang menerpa Aku semakin terpesona Dari sebuah kesadaran Bahwa ia tak pernah ikrarkan rasa Tak butuh sebuah pengakuan Ia akan selalu membaktikan diri Menyusun kepingan jalan ini Padamu hai bidadari yang kusebut tak bersayap Pemilik takhta di hati para pujangga Pemilik tempat mulia anugerah dari Sang Maha Kairo, 11 November 2018 Tangan bidad ari itu menyentuh hatiku

Pujian itu Luka

Oleh : Mufida Afiya Sadarkah kau Sebab yang kau beri itu adalah luka Goresan sebuah duri Mengoyak dinding hati Retak berkeping mengurai sedih Mungkin, kau sebut itu pujian Namun bagiku senjata bertuan Seolah membangun benteng kebanggaan Namun perlahan menyerang pertahanan Jangan lagi kau puji aku Bukan aku tak mau Sebab perlahan ia tertanam Bak duri di hatiku

Lelah

Oleh : Mufida Afiya Di ufuk barat kau berhenti Membalik badan ingin kembali Pada jejak yang kini kau pijak kau berkata "semangatku mengalah, pada lelah tak bersalah" Ada apa gerangan? Mana niat yang kau selipkan? Ikrar yang kau lantangkan? Janji manis yang kau bisikkan pada setiap hati penuh harap? Jangan kembali! Belum pada ujung yang ingin kau jajahi Biarkan lelah berjalan mengiringi Baktikan ia pada muara agung nan suci Hingga kau temukan Sampai kapan akan terus berlari

Harapan

Oleh : Mufida Afiya Cahaya itu kembali lagi Menggeluti hati kecil Untuk ke sekian kali Melambung tinggi harapan Tak kukenali kekecewaan Untuk sesaat Sudah berapa kali? Entahlah Namun kali ini tidak Sungguh! Tak ingin kulepaskan Hasrat hati berbicara Ingin menggenggamnya lebih erat Sedekat hamba pada tuan Selekat darah dalam nadi Menetap lebih lama, Untuk sekarang dan selamanya #50dayschallenge #Menulispuisi #FLPMesir