Kamu, dimana kutemukan
Oleh : Mufida Afiya
Ingatan itu kembali
Tentang sebuah rasa
Meski tak kutemukan dalam pandang mata,
Sudut hati bicara, ia akan tetap ada.
Sarah berdiri terpaku di depan taman bermain. Menatap sebuah ayunan besi yang terletak di sisi kiri taman. Angin sepoi-sepoi yang bertiup membuat ujung rambutnya melambai-lambai. Dalam perjalanan pulang dari sekolahnya, ia tak sengaja melewati taman bermain masa kecilnya. Awalnya, ia hanya ingin mampir ke sebuah minimarket di ujung komplek perumahannya. Namun seketika langkahnya terhenti dan menatap taman bermain yang berhadapan dengan minimarket. Hingga matanya tertahan pada ayunan itu dan memori tujuh tahun silam kembali terputar di kepalanya.
Kalau saja aku tidak terlambat, seandainya aku lebih cepat, itu tak akan terjadi. Batinnya.
***
Mei 2018
Bel sekolah berbunyi. Seluruh siswa bersiap untuk pulang ke rumah masing-masing. Begitu pula dengan Sarah. Siswi kelas sebelas itu merapikan meja tulisnya dan menyandang tas punggungnya. Cuaca panas membuatnya ingin meneguk minuman dingin demi melepas dahaga. Ah, aku juga harus membeli sabun cuci dan sampo. Sepertinya enakan langsung ke minimarket deh. Pikirnya.
“Sarah! Mampir ke rumahku yuk!” ajak Yuni teman sekelas Sarah sambil menepuk bahunya.
“Hmm, mungkin lain kali Yun, aku harus ke minimarket dulu, maaf ya,” tolak Sarah pada Yuni.
“Oh, okedeh. Sampai jumpa besok Sarah. Daah” Yuni melenggang pergi meninggalkan Sarah.
Sepuluh menit kemudian, ia melangkah menuju minimarket yang terletak di ujung kompleknya. Komplek perumahan tempat ia tinggal memang luas. Sarah sudah tinggal disana bersama keluarganya selama delapan tahun. Namun, belum semua sudut komplek yang ia ketahui. Salah satu faktor penyebabnya adalah dirinya yang lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah ketimbang di luar untuk bermain. Sambil berjalan, Sarah memperhatikan sekelilingnya. Sudah lama ia tidak melewati jalan itu karena terletak agak jauh dari rumahnya. Karena kebutuhan rumah yang selalu dibeli setiap awal bulan di supermarket, menyebabkan ia sangat jarang berbelanja di minimarket tersebut.
Ketika ia memandang jalanan itu, tiba-tiba matanya terhenti pada sebuah taman bermain. Sarah berhenti sejenak dan memandangi taman bermain itu lekat-lekat. Ah, kenapa aku bisa lupa kalau taman ini ada disini? Ia tak pernah lagi bermain di taman ini sejak kejadian itu. Kejadian yang membuatnya menjadi manusia paling menyesal atas keterlambatan yang telah ia lakukan. Tanpa ia sadari, kakinya berjalan mendekat ke arah pagar besi di sekeliling taman. Kemudian matanya tertuju pada sebuah ayunan di sisi kiri taman. Ayunan itu memiliki kenangan buruk bari Sarah.
Ayunan itu juga masih terlihat sama sejak tujuh tahun yang lalu.
Juni 2011
“hahaha.. Sarah dorong yang kuat!”
“iyaa, ini udah cepat kok, nanti kamu harus dorong aku lebih kuat ya!”
Sarah dan Raisah. Dua gadis cilik kembar identik dan memiliki selera yang sama. Meski kebanyakan dari saudara kandung yang sangat terlihat dekat, pasti ada saat mereka tak bersatu dalam kata. Berbeda halnya dengan apa yang dialami oleh Sarah dan Raisah. Tak sekali pun mereka bertengkar, atau hanya sekadar berbeda pendapat. Mereka selalu sehati. Sejak lahir mereka tidak mengetahui sosok ayah kandung dan menjadikan mereka bagaikan dua bidadari tangguh penyejuk hati ibu mereka.
Sore itu, mereka sedang asyik bermain bersama di sebuah taman bermain di ujung komplek. Ketika itu, ibu mereka sedang menghadiri acara rutin ibu-ibu komplek setiap minggunya di rumah salah satu teman ibunya dekat dengan taman tersebut. Sarah dan Raisah pun bermain di taman untuk menunggu ibu mereka.
Taman yang tak begitu luas, namun bisa dibilang tempat yang nyaman untuk arena bermain bagi anak-anak. Tapi saat itu, tak terlihat satu anak pun yang sedang bermain selain Sarah dan Raisah. Taman itu sepi. Hanya ada mereka berdua disana.
“Raisah, aku haus. Aku mau beli minum dulu ya” ujar Sarah
“Iya aku juga mau dong, kalau begitu kamu aja yang beli, aku tunggu disini aja, biar aku jagain ayunan ini”
“Tapi kamu jangan pergi ya! Tunggu aku disini” pinta Sarah
“Iyaa…”
Sarah pun pergi ke minimarket di depan taman bermain. Saat hendak membayar dua minuman gelas yang dibelinya, ia melihat boneka Barbie keluaran terbaru yang terpajang di minimarket itu. Boneka itu berhasil menarik perhatiannya. Raisah pasti juga suka ini. Pikirnya dan kemudian mengarahkan pandangannya pada Raisah yang berada di taman. Tunggu, Siapa itu? Tanyanya dalam hati. Sarah melihat Raisah yang sedang berbicara dengan seorang laki-laki yang mengenakan topi hitam di kepalanya. Laki-laki itu juga melingkarkan kain merah di lehernya. Namun, wajah Raisah terlihat bahagia dan tenang. Ah, mungkin dia orang baik. Pikir Sarah dalam hati.
Setelah puas melihat semua boneka Barbie yang terpajang, ia membayar minuman gelas yang dibelinya. Kemudian Sarah kembali ke ayunan tempat Raisah dan dirinya bermain. Namun ia tak menemukan sosok saudara kembarnya itu. Raisah kemana? Kok ga ada ya? Tanyanya dalam hati.
“Raisaah! Saaah! Kamu dimana??” Sarah menyapukan pandangannya ke sekeliling taman. Rasa cemas mulai menghampiri dirinya. Karena tidak puas, ia berlari ke setiap sudut taman mencari Raisah. Hasilnya nihil. Ia tak bisa menemukan Raisah. Ia sangat takut jika tidak bisa bertemu Raisah lagi. Perlahan air mata mulai membasahi pipinya. Lalu seketika tangisnya pecah ketika ibunya menghampiri dan bertanya apa yang terjadi padanya. Sarah menangis dalam pelukan ibunya dan menceritakan semua hal yang dialaminya sebelum ia kehilangan Raisah. Ibunya memeluknya dengan erat sambil mencoba untuk menenangkannya.
***
Dua bulan berlalu sejak hilangnya Raisah. Pencarian yang dilakukan oleh seluruh anggota keluarga dan aparat kepolisian tetap menghasilkan hasil yang sama. Raisah tak kunjung ditemukan. Hal itu membuat Sarah sangat terpukul. Ia sangat merasakan kehilangan. Tak ada lagi tempatnya untuk menceritakan bagian favoritnya dalam kartun yang ditontonnya bersama Raisah. Tak ada lagi yang akan menemaninya ke kamar kecil di malam hari, saat ibunya terlelap. Ia jadi lebih banyak mengurung dirinya di kamar dan hanya keluar sesekali, untuk makan dan pergi sekolah.
Bertahun-tahun setelah itu, Sarah menjalani hidupnya sebagai anak tunggal. Meskipun ia terlihat kuat, namun ia sangat kesepian. Ia sangat merindukan saudara sekaligus teman terdekat baginya. Jauh di lubuk hatinya, ia merasakan bahwa Raisah masih hidup. Di suatu tempat yang ia tak tau dimana keberadaannya.
***
Sampai saat ini, rasa rindu itu terus menghampiri Sarah. Kesedihan dan keresahan selalu datang tiap ia melihat benda atau hal yang mengingatkannya pada Raisah.
“Nak, kenapa melamun disini?” Tiba-tiba seorang pria tak dikenal menepuk bahu Sarah dan membuatnya tersadar dari lamunannya. Pria itu sudah terlihat sedikit tua. Di atas telinganya terlihat sedikit rambutnya yang telah memutih. Namun raut wajahnya masih memancarkan aura kegagahan masa mudanya.
Hanya beberapa detik saja, pria itu langsung meninggalkan Sarah yang belum berkata apa-apa padanya. Sarah terdiam. Kemudian Ia kembali menatap taman bermain itu. Tunggu. Bukannya pria itu memakai topi hitam dan kain merah dilehernya. Itu kan!? Sarah menyadari sesuatu dan berbalik ke arah pria tadi. Tetapi ia tak melihat apa-apa. Pria itu telah pergi.
Jauh dari tempatnya berdiri, tanpa sepengetahuan Sarah, pria yang tadi menghampirinya berdiri bersama seorang gadis. Gadis itu terlihat anggun dengan balutan kerudung biru muda yang dikenakannya. Ia memandang Sarah dalam-dalam. Sorot matanya menjelaskan rasa rindu yang selama ini ia tahan. Namun, tidak bisa ia tumpahkan.
“Ayah, kita pergi yuk! Aku sudah merasa baikan.” ucap gadis itu pada pria yang ia panggil ayah. Mereka berdua kemudian pergi meninggalkan taman bermain itu. Sarah, maafkan aku.
Heeiii penuliss, mana lanjutan nyaa🙄
BalasHapus